Burung Rangkong waykambas

No comment 540 views

BTNWK – Bertemu dengan satwa eksotik Sumatera tentu amat menyenangkan hati. Bagi pengamat satwa sejati, bisa menjumpai satwa-satwa yang terancam punah itu dapat menambah kredit saat berbagi pengalaman.

Terlebih, bila mampu mengabadikan sosoknya dalam sebuah gambar, entah gambar digital atau gambar bergerak. Rangkong adalah burung yang ada di Sumatera yang punya tampang keren dan selalu menarik perhatian orang saat di dalam hutan.
Rangkong Gading yang berukuran sangat besar ini termasuk di antara 54 jenis yang tersebar di seluruh daerah tropis Asia dan Afrika. Pejantan selalu jadi incaran orang. Maklum di kepalanya yang berwarna merah kuning itu punya kelebihan unik, Karena itu orang bule memanggilnya, “Helmeted Hornbill”. Burung jantan yaitu bulu ekor tengah sangat panjang, kulit leher merah tidak berbulu sedangkan betina lehernya biru pucat. Burung yang nama ilmiahnya “Buceros vigil” dan di kenal dengan nama Enggang Tebang Mertua adalah Enggang yang mudah dikenali, berwarna coklat putih, ada pita yang sangat panjang pada ekor. Ciri khasnya ekor putih dengan garis hitam melintang dan garis putih lebar pada sayap. Tanduknya kuning-merah padam, agak tinggi dan berbentuk kotak (digunakan sebagai gading untuk mebuat ukuran). Jenis burung Rangkong lainnya yang ada di Way Kambas antara lain jenis Rangkong Badak yang nama ilmiahnya “Buceros Rhinoceros” dan orang bule biasa menyebutnya dengan nama Rhinoceros Hornbill. Omong-omong soal makanan, Rangkong paling doyan melahap buah ara. Konon sejak masa perjodohan sampai tahap akhir masa bersarang, buah ara adalah makanan favorit. Paling asyik, kalau sempat melihat tingkah laku pejantan saat merayu sang betina. Dengan penuh cinta, dia memberi betina buah ara yang ranum. Buah diterima, cinta pun bersambut. Hhmm… romantis juga ya. Di Way Kambas banyak terdapat jenis pohon ara yang menjadi sumber buah yang berlimpah untuk persediaan makan burung rangkong. Jadi, tak perlu heran bila hutan di kawasan Way Kambas selalu berisik dengan kepakan sayap di ”pesawat terbang” hidup ini. Karena ingin memotret Rangkong Gatot dari WCS IP segera mengajak “Wako” ke dalam hutan, mencari pohon ara besar. Pohon ara lebih terkenal dengan sebutan beringin (marga Ficus). Bagi kebanyakan satwa hutan – termasuk rangkong – pohon ara adalah keranjang makanan.
Sekali panen pohon gagah ini mampu menghasilkan buah hingga satu juta butir. Sudah begitu, buah ara cepat menjadi matang dan bersamaan. Pola berbuah pohon ara tak mengikuti suatu pola musim. Jadi, nyaris sepanjang tahun satwa-satwa pemakan buah selalu dapat memetik buah ara yang ranum. Terutama, saat buah lain di dalam hutan sedang langka.
Buah ara banyak mengandung gula dan mudah dicerna. Di dalam buah itu juga terkandung kalsium, yang penting bagi pertumbuhan tulang dan perkembangan cangkang telur. Selain Rangkong, monyet juga yang gemar memetik buah ara dan masih banyak lagi satwa pemakan buah lainnya.
Di kawasan Way Kambas banyak terdapat jenis pohon ara. Ada cerita unik tentang hubungan simbiosis mutualisma antara pohon ara dan beragam jenis tawon kecil. Konon satu jenis pohon ara punya satu jenis tawon yang membantu menyerbukinya. Jadi, bila ada 20 jenis pohon ara tentu angka yang sama juga didapat untuk menghitung keragaman tawon kecil itu. Sayangnya, hubungan saling ketergantungan ini justru membuat populasi pohon ara dalam bahaya. Sebab, bila suatu jenis tawon tertentu punah, jenis ara yang diserbuki tawon itu akan punah pula. ”Ayo, kita lihat ara pencekik,” ajak Gatot – sapaan karib Gatot Santoso. Ara pencekik atau beringin pencekik bentuknya amat mengesankan. Pohon ini hidup sebagai parasit pada pohon lain.
Dia memulai hidup di tajuk pohon lain, bila bijinya diciritkan burung atau monyet.
Ketika pohon itu tumbuh, maka akar-akar gantungnya akan membelit batang pohon inang. Makin lama makin luas cengkeraman akar gantung pohon parasit ini. Yang sudah lama, akar gantung itu sudah menyatu sehingga tampak sebagai seberkas besar tali yang berbelit-belit di seputar inangnya. Lama-kelamaan, pohon inang pun mati setelah seluruh tajuknya tertutup tajuk parasit atau pepagan serta persediaan cairannya tidak berdaya melawan pelukan maut itu.
Gatot dengan bangga menunjukkan beberapa bentuk dan ukuran ara pencekik. Ada yang sudah sangat besar, ada juga yang masih kecil. Di pohon ara itu, jalinan akar gantung itu seperti tersusun rapi, mirip tangga .

Oleh : Moh. Taufiq Soleman

author
BALAI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Jln. Raya Labuhan Ratu, Kecamatan Labuan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi LAMPUNG Telp/Fax :(0725) 764 6010
No Response

Leave a reply "Burung Rangkong waykambas"