Kera Ekor Panjang

No comment 1152 views

Kera Ekor Panjang atau Long Tail Macaque di waykambas

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) merupakan jenis primata yang telah lama dikenal karena penyebarannya yang luas tak terkecuali di Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Monyet ini disebut juga Crabs eating macaque, Long Tail Macaque dengan nama daerah seperti kunyuk (Sunda), Cigak (Minang/Jambi) dan ketek (Jawa).
Hidup dalam kawasan hutan atau dipinggir hutan. Di TNWK hampir terdapat disemua lokasi mulai dari Selatan sampai Utara bahkan di pinggir pantai Timur dan dibatas kawasan dengan masyarakat di bagian Barat. Termasuk omnivora oportunis yang dilengkapi kantong pipi, pemakan berbagai jenis makanan terutama buah pada pohon gandaria ,ara, karet, rambutan, aren, rumbia, medang, nangka, dll), daun muda, bunga, biji, umbi (ubi dan ketela), serangga dan sejenis kepiting. Tumbuhan budidaya pertanian yang disukai seperti jagung, padi, pisang dan tebu. Dengan variasi makanan yang tinggi membuatnya lebih adaptif dibandingkan monyet lain. Disisi lain dia juga dimusuhi petani karena sering mengganggu tanaman budidaya. Sementara didalam ekosistem hutan satwa ini sebagai satwa mangsa bagi harimau.
Merupakan mahluk sosial berkelompok antara 15 – 40 ekor dengan pimpinan seekor jantan besar dominan, ditempat yang sempit populasi mencapai 200 ekor setiap kelompoknya. Perkawinan didominasi oleh jantan dominan dan menganut paham poligami, dimana jantan dapat mengawini lebih dari satu betina. Masa kebuntingan 160-170 hari dengan jarak kelahiran 13 bulan.
Macaca berwarna coklat keabuan ini, berjalan dengan keempat kakinya di pohon maupun didarat, dapat memanjat bahkan meloncat dan yang menarik monyet ini dapat berenang dengan sangat baik. Monyet ini juga cukup pintar, dengan ekornya yang panjang dapat memancing kepiting dengan cara memasukkan ujung ekornya kedalam air sambil digoyang-goyangkan. Ketika kepiting mulai menggigit maka dengan sentakan cepat diangkat ke darat, lalu dimakan. Bahkan tak jarang ada kejadian lucu ketika monyet muda belajar memancing kepiting, karena belum berpengalaman bukannya dapat makan enak tapi malah ekor sakit tergigit sambil berlari meloncat kesakitan. Karena ini ia disebut Crabs eating macaque (monyet pemakan kepiting). Karena kepintaran ini juga membuat orang banyak memelihara sebagai pets (satwa kesayangan) dan dijadikan “topeng monyet”. Dapat mengeluarkan suara yang keras dan melengking (onomatopoeic), bisa bersuara “krraa…kkrraa” berulang-ulang untuk mendetek si keberadaaan kelompoknya. Macaca ini termasuk diurnal aktif ketika fajar menjelang sampai mentari terbenan diufuk barat dan malam merupakan waktu istirahat dan tidur. Adapun untuk tidur biasanya memilih pohon yang tinggi (ara/Ficus spp, Torop/Artocarpus, Meranti/Shorea sp, dll). Ketersediaan makanan dan keutuhan hutan mengurangi pergerakan satwa ini ke ladang petani dan ini juga berarti mengurangi gangguan terhadap kepunahan. Kawasan hutan yang baik dan utuh merupakan syarat mutlak bagi keberlangsungan hidup satwa liar. Ironisnya tingginya permintaan terhadap Monyet ekor panjang ini, membuat perburuan liar menjadi marak. Sekarang disinyalir ada restoran mahal dan exlusive menyediakan sajian “ sop otak monyet”, konon penjagalan kera ini dilakukan dengan memukul batok kepalanya dengan keras dalam keadaan hidup, sadis. Maraknya konversi hutan menjadi areal transmigrasi, HPH, perkebunan dan lain-lain, membuat satwa ini menjadi berkeliaran diareal-areal terbuka sehingga masyarakat banyak memandang sebagai hama. Monyet ini hama bagi pertanian, perkebunan terutama kebun karet dan buah. Contoh ini masih sangat lekat dipikiran penulis, dimana ketika penulis kecil di daerah asal (Jambi). Di suatu kawasan yang dijadikan perkebunan sawit, beberapa primata seperti monyet ekor panjang, beruk dan simpai dibunuh dengan cara ditulup pakai sumpit beracun dan si penjagal dibayar oleh perkebunan, sebagai tandanya penjagal harus membawa bukti ekor atau telinga primata yang mati.
Sementara permintaan untuk percobaan penelitian obat dan dekatnya kesamaan satwa ini dengan manusia membuat permintaan akan monyet ini terus dan terus meningkat. Sejak tahun 70-an ekspor monyet ini telah dilakukan untuk penelitian biomedis dan psikologi. Saat ini ada beberapa tempat yang menangkarkannya seperti Pulau Tinjil dan Deli di Banten dan beberapa tempat lainnya. Pengawasan terhadap perusahaan eksportir harus dilakukan dengan ketat oleh pemerintah dan element terkait untuk mencegah satwa ini dari kepunahan, Indonesia termasuk eksportir besar Macaca didunia bersama Mauritius dan Filipina. Disini kita harus bersikap arif dan bijaksana, memang sekarang statusnya belum terancam kepunahan, tetapi apabila satwa sudah hampir habis dan sulit ditemukan barulah biasanya manusia sadar.
Pustaka : dari berbagai sumber

Oleh : Dedi Candra

author
BALAI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Jln. Raya Labuhan Ratu, Kecamatan Labuan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi LAMPUNG Telp/Fax :(0725) 764 6010
No Response

Leave a reply "Kera Ekor Panjang"