Ragam Jamur di Hutan

No comment 707 views

Keberadaan Jamur di hutan mungkin tidak sepopuler pohon-pohon berkayu. Akan tetapi, Jamur merupakan satu diantara berbagai jenis organisme yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Bersama dengan bakteri dan mikroorganisme lainnya, Jamur berperan sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik. Dalam hal ini jamur akan melakukan proses penguraian atau dekomposisi bahan organik untuk mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan. Dengan demikian, jamur ikut membantu menyuburkan tanah melalui penyediaan nutrisi bagi tumbuhan, sehingga hutan tumbuh dengan subur.
Diperkirakan terdapat 1,5 juta spesies jamur di dunia dan hingga tahun 1996 hanya 69.000 spesies jamur yang telah berhasil diidentifikasi. Sejumlah 200.000 spesies dari 1,5 juta spesies jamur tersebut diperkirakan ditemukan di Indonesia, dimana hingga saat ini belum ada data pasti mengenai jumlah spesies jamur tersebut, yang telah berhasil diidentifikasi, dimanfaatkan, ataupun yang telah punah akibat ulah manusia (Gandjar et al., 2006). Selain itu, masih banyak spesies jamur yang belum diketahui manfaatnya hingga saat ini, sehingga pemanfaatan langsung sebagai sumber makanan ataupun bahan obat belum maksimal dilakukan.
Taman Nasional Way Kambas dengan luas yang mencapai 125.621,30 Ha memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar. Potensi tersebut dapat berupa potensi jamur yang sangat berguna bagi masyarakat.

Mengenal Jamur
Jamur merupakan salah satu organisme tingkat rendah yang tidak mempunyai zat hijau daun. Tubuhnya terdiri atas bagian yang tegak yang berfungsi sebagai penyangga dan bagian tudung. Tudung berbentuk mendatar atau membulat seperti payung atau kipas. Morfologi jamur bervariasi didasarkan pada bentuk tudungnya, ada yang berbentuk bulat, payung, kipas atau berbentuk seperti ginjal Bagian tubuh yang lainnya adalah jaring-jaring dibawah permukaan media tumbuh berupa miselia yang tersusun dari berkas hifa.
Awalnya jamur dimasukkan ke dalam kingdom plantae (tumbuh-tumbuhan), tetapi kini jamur membentuk kingdom tersendiri yaitu kingdom fungi karena jamur tidak dapat melakukan fotosintesis seperti pada tumbuhan. Jamur memperoleh makanan secara heterotrof dengan mengambil makanan dari bahan organik yang ada di sekitar tempat tumbuhnya. Bahan-bahan organik ini akan diubah menjadi molekul-molekul sederhana dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh jamur. Untuk selanjutnya molekul-molekul sederhana tersebut dapat diserap langsung oleh tubuh buah jamur. Jadi, jamur tidak seperti organisme heterorof lainnya yang menelan makanannya kemudian mencernanya sebelum diserap.
Jamur membentuk struktur reproduksi seksual yang berada di dalam struktur tubuh buah yang bentuknya mencolok dan ukurannya besar atau makroskopik. Perbedaan struktur dalam alat berbiaknya merupakan dasar untuk mengkasifikasikan jamur. Berdasarkan sistem pembentukan spora, Jamur dibedakan menjadi 4 divisi, yaitu Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan Deuteromycota. Dari keempat divisi Jamur tersebut, jamur dari Basidiomycota mempunyai sosok tubuh cukup besar, sehingga dapat dipegang, dipetik, dan diamati dengan mata telanjang.
Jamur juga dapat dikelompokkan berdasarkan sumber makanan nya menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok jamur yang sumber makanan utamanya dari serat tumbuhan paku (selulosa), seperti jerami padi, kapas, daun pisang, dan bongol jagung. Contoh kelompok ini yaitu jamur merang (Volvariela volvaceae) dan jamur kancing (Agaricus bisporus). Yang kedua, kelompok jamur yang sumber makanan utamanya dari serat kayu (lignin), misalnya jamur lingzhi atau yang lebih dikenal dengan Ganoderma sp, jamur kuping (Auricularia auricula), dan jamur tiram (Pleurotus sp).

Jamur di Taman Nasional Way Kambas
Di Taman Nasional Way Kambas, spesies jamur yang ditemukan umumnya didominasi oleh Basidiomycota. Dari divisi Basidiomycota yang ditemukan di Taman Nasional Way Kambas, Ganoderma sp. merupakan spesies jamur yang paling banyak ditemui. Terdapat 15 spesies Ganoderma liar di Taman Nasional Way Kambas. Diantaranya Ganoderma lucidum yang dikenal sebagai jamur Lingshi yang sering dibudidayakan oleh masyarakat karena kegunaan nya sebagai tanaman obat. Selain jamur Ganoderma sp, juga ditemukan beberapa spesies jamur lainnya seperti Auricularia auricula (jamur kuping), Clavaria sp. (jamur karang), serta Gymnopus sp. atau yang lebih dikenal dengan suung bulan. Masih terdapat juga spesies-spesies jamur lainnya.
Umumnya jamur yang ditemukan tumbuh di atas kayu lapuk, serasah/tanah, daun, dan kotoran satwa, serta ada juga yang tumbuh pada jamur yang telah membusuk. Jamur yang ditemukan di Taman Nasional Way Kambas pada umumnya merupakan spesies jamur pelapuk kayu dan serasah. Dengan demikian dapat diketahui bahwa sebagian besar spesies jamur yang ditemukan berperan sebagai dekomposer dalam jaring-jaring makanan di ekosistem hutan Taman Nasional Way Kambas. Dengan demikian Jamur mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan karena jamur mampu menghasilkan enzim-enzim pendegradasi lignoselulosa kayu seperti selulase, ligninase, dan hemiselulase.
Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan jamur. Suhu optimum akan berbeda-beda untuk setiap spesies jamur, Tetapi pada kondisi alami, umumnya jamur dapat berkembang pada kisaran suhu 220C dan 350C. Oleh karena itu, jenis jamur yang tumbuh pada satu tempat dapat berbeda dengan jenis jamur yang tumbuh pada tempat lainnya. Hal ini tentunya semakin memperkaya biodiversitas kita. Keberadaan jamur pun harus kita jaga kelestariannya karena sebagai salah satu mata rantai dalam ekosistem, jika salah satu mata rantai punah atau hilang akan mempengaruhi keseimbangan dan kelestarian alam.

Ditulis Oleh : Evi Damayanti, PEH Muda Taman Nasional Way Kambas

author
BALAI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Jln. Raya Labuhan Ratu, Kecamatan Labuan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi LAMPUNG Telp/Fax :(0725) 764 6010
No Response

Leave a reply "Ragam Jamur di Hutan"